Apr 09

Tanggal 4 April 2008, Menkominfo Muhammad Nuh memberikan ultimatum kepada para pengelola ISP di Indonesia untuk memblokir akses ke YouTube. Dan mulai 5 April 2008, satu per satu pengelola ISP mulai mematuhinya, termasuk Telkom Speedy, langganan saya. Telkom Speedy malah menambah daftar situs yang diblokir untuk meliputi MySpace, MetaCafe, RapidShare, Multiply, LiveLeak dan tidak ketinggalan situs asal muasal keributan, TheMovieFitna.com.

Entah sampai kapan pemblokiran ini akan berlanjut. Untuk sementara saya hanya bisa menggunakan Google Video sebagai situs video alternatif, walaupun tidak selengkap YouTube.

Karena YouTube sedang diblokir, kita perlu membatasi pencarian untuk video yang di-upload ke server Google saja.

Hasilnya OK:

Paling tidak ini bisa menghibur mereka yang hobi mengakses YouTube.

Update 11 April 2008: Akses ke YouTube sudah dibuka lagi, walaupun belum ada pengumuman untuk itu di situs TelkomSpeedy. Begitu juga akses ke MySpace, MetaCafe, RapidShare, Multiply, dan LiveLeak. Yang tetap diblokir tinggal TheMovieFitna.com saja.

Feb 12

Hari ini saya mampir ke Speakeasy — Speed Test untuk mengetahui seberapa cepat (atau lambat) sambungan internet Telkom Speedy saya. Hasilnya lumayan, saya mendapatkan kecepatan maksimal yang biasanya saya dapatkan dari Telkom Speedy.

Tapi sayangnya, ini adalah perkecualian. Akhir-akhir ini kecepatan yang bisa saya dapatkan di jam kantoran cuma berkisar 20-25 KB/s. Kalau ingin mendapatkan kecepatan 40,9 KB/s hanya bisa di malam atau dini hari. Itu pun belum pasti.

Update: Siang hari pukul 12:37, saya kembali melakukan test kecepatan. Hasilnya? Kecepatan download turun drastis menjadi 12 KB/s (sebuah rekor baru!) sedang kecepatan upload tetap di kisaran 6,5 KB/s.

Entahlah. Mungkin sudah terlalu banyak yang berlangganan Telkom Spedy. Mungkin Telkom ingin memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dari infrastruktur yang sudah ada sebelum memutuskan untuk membangun infrastruktur baru. Sebagai konsumen, kira-kira apa yang bisa saya lakukan? Lambat atau tidak lambat saya tetap membayar Rp. 825.000,- per bulan (Rp. 750.000 + PPN 10%).

Pengalaman terdahulu dengan StarOne milik Indosat meyakinkan saya bahwa hal yang sewajarnya saya lakukan adalah pindah berlangganan ke sambungan internet lain. Saat ini sudah ada Fastnest dari Lippo Group yang menjanjikan kecepatan dua kali lipat dengan separuh biaya berlangganan Telkom Speedy. Sayangnya saat ini Fastnet belum menyambung ke kota saya. Jadi, saat ini saya mau tidak mau harus puas dengan sambungan Telkom Speedy.

Jan 27

Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…

Hari ini, tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB, mantan Presiden Suharto meninggal dunia dalam usia 86 tahun.

Pak Harto Wafat Pukul 13.10 WIB

Nov 02

Tanggal 24 Oktober 2007 yang lalu saya memperoleh sebuah kejutan yang tidak manis dari Google. Satu situs saya mengalami penurunan PageRank dari PR6 menjadi PR4. Waktu itu saya langsung berpikir, “Wah, ini dia.”

Sudah beberapa bulan ini saya kepikiran dengan beberapa tulisan Matt Cutts (kepala tim Google’s Webspam) di sini dan di sini serta ‘nasihat’ resmi dari Google di sini. Singkatnya Google ingin supaya kita memasang tag nofollow pada semua link komersil di situs kita. OK, kelihatannya cukup adil. Google ingin mengurangi kemungkinan orang mengakali sistem link-for-vote milik Google. Hanya ada satu ganjalan, “Bagaimana caranya Google bisa secara otomatis membedakan antara link yang didapatkan dari jual beli dengan link yang didapatkan secara alamiah? Jawabannya jelas: Tidak bisa. Keduanya menggunakan kode HTML <a href> yang sama. Bahkan review manual pun tidak akan bisa membedakan. Ketidakjelasan ini bisa membuat para webmaster menjadi serba khawatir. Apa sekarang kita harus menyisipkan tag nofollow di setiap link yang kita pasang untuk menghindari penalti dari Google?

Saya akui kalau saya telah melakukan praktek grey hat selama 5 bulan terakhir, dengan menjual sekian link melalui TLA pada situs saya yang eks-PR6 tersebut. Saya lakukan ini dengan menyadari bahwa orang membeli link di situs saya untuk mengejar cipratan PR, dan bukan semata untuk mendapatkan traffic. Saya berani lakukan ini karena saya berpedoman:

  • Saya tidak memberi link pada situs-situs yang temanya tidak berhubungan sama sekali
  • Saya tidak memberi link pada situs-situs dengan tema judi, bokep dan wilayah rawan lainnya
  • Saya berasumsi bahwa pemeriksaaan otomatis Google tidak akan bisa membedakan antara link alamiah dan link hasil jual beli berdasarkan kode HTML semata (di sinilah letak grey hat tersebut).

Tapi tentu saja bukan saya yang menentukan aturan di sini. Google yang menentukan. Dan Google akhirnya memutuskan untuk mengurangi PR situs saya tersebut menjadi PR4. Saya tidak tahu bagaimana caranya Google bisa sampai pada kesimpulan kalau saya menjual link. Tapi saya bisa menebak bahwa cara mereka tidak terlalu canggih amat. Buktinya ada pada kejadian yang menimpa Brian Clark. Blog CopyBlogger miliknya terkena penalti dari PR6 menjadi PR4. Ini terjadi walaupun kenyataannya Scott sama sekali tidak menjual link di blog miliknya. Untungnya kemudian Google memulihkan dan menambah PR CopyBlogger menjadi PR7.

Yang jadi kabar baik, jumlah traffic organik dari Google tetap seperti biasanya. Dan ranking SERP di Google juga kelihatannya tidak terpengaruh oleh penurunan PageRank. Mungkin ini dimaksudkan sebagai peringatan ringan. Atau mungkin juga PR yang tercantum di Google Toolbar sudah tidak ada artinya lagi. Ini berarti Google tidak ingin orang-orang terlalu mengandalkan PR. Jika PR sudah tidak terlalu berarti di mata orang, seluruh bisnis jual beli link akan mati dengan sendirinya.

Pada akhirnya saya tidak mau ambil resiko. Saya cabut semua link iklan TLA yang berakibat hilangnya sebagian pendapatan saya (hik hik….). Saya juga sadar bahwa sedikit sekali (baca: hampir tidak ada) orang yang mau membeli link di situs saya semata-mata untuk mendapatkan traffic. Google menang, pendapatan saya berkurang dan PR situs saya turun menjadi 4.

Adios TLA.

Oct 03

Baru-baru ini saya ketemu sebuah buku libre berjudul Handbook for Bloggers and Cyber-Dissidents. Isinya berkisar tentang bagaimana cara menggunakan internet dengan aman dan rahasia. Maklumlah, ada beberapa negara yang merasa perlu mengawasi semua hal yang diomongkan warga negaranya. Kalau ternyata ada post yang ‘kurang berkenan’ di Internet, alamat IP si pengirim post akan segera dilacak, dan kita tinggal membayangkan apa yang akan terjadi (petunjuk: ingat jaman Mbah Harto dulu).

Dari buku di atas saya belajar bahwa ternyata ada beberapa cara untuk tetap menjaga kerahasiaan kita di internet. Salah satunya adalah dengan menggunakan TOR alias The Onion Router. Jadi, apa itu TOR?

Kutipan dari wiki-nya TOR:

What is TOR?

Tor is an anonymity network. It protects your privacy on the internet. Tor uses a series of three proxies - computers (or nodes) which communicate on your behalf using their own identifying information - in such a way that none of them know both your identifying information and your destination. Tor can also help people get around restrictive firewalls which censor web content.

Instalasi TOR

Kedengarannya rumit ya? Tapi ternyata instalasinya cukup mudah. Apalagi bagi yang menggunakan Ubuntu sudah tidak perlu repot-report download dari situs TOR, tapi cukup dengan mengetikkan perintah:

sudo apt-get install tor

Instalasi Privoxy

Jadi begitu saja kita sudah bisa browsing anonymous? Rupanya belum. Kita masih perlu menginstall Privoxy, sebuah proxy HTTP. Alasannya?

Using privoxy is necessary because browsers leak your DNS requests when they use a SOCKS proxy directly, which is bad for your anonymity. Privoxy also removes certain dangerous headers from your web requests, and blocks obnoxious ad sites like Doubleclick.

Untuk pengguna Ubuntu, instalasi privoxy cukup dengan menggunakan perintah:

sudo apt-get install privoxy

Selanjutnya kita menyunting file /etc/privoxy/config:

gksudo gedit /etc/privoxy/config

dan menambahkan baris berikut di awal file:

forward-socks4a / 127.0.0.1:9050 .

(sertakan juga tanda titik di belakang baris)

Simpan hasil perubahan file dan restart kembali Privoxy:

sudo /etc/init.d/privoxy restart

Akhirnya, browsing anonymous dengan TOR

FireFox sebagai browser default Ubuntu ternyata direkomendasikan untuk digunakan bersama TOR dengan sedikit tambahan. Kita perlu meng-install plugin Torbutton. Selesai install, restart FireFox dan lihat di bagian kanan bawah:

TOR disabled

Klik satu kali pada label “Tor Disabled” maka TOR untuk FireFox akan diaktifkan:

TOR enabled

Selesai. Itu saja. Dan sekarang untuk menguji apakah kita sudah benar-benar anonymous di internet, buka URL berikut:

http://torcheck.xenobite.eu/

Jika muncul pesan seperti di bawah berarti TOR sudah berfungsi:

TOR installed successfully

Keperluan anonymous lain-lain

Untuk menggunakan TOR dalam aplikasi internet yang mendukung proxy HTTP, cukup arahkan ke Privoxy (localhost post 8118). Untuk menggunakan SOCKS (chatting, IRC), cukup arahkan aplikasi bersangkutan ke TOR (localhost port 9050). Tapi sebelumnya perlu diingat bahwa cara ini cukup berbahaya. Untuk aplikasi yang tidak mendukung SOCKS atau HTTP, gunakan tsocks atau socat. Pengguna Ubuntu (lagi-lagi) bisa meng-install keduanya cukup dengan menggunakan perintah:

sudo apt-get install tsocks socat